in memorian: Dedi Kuncahyono

Orang disekitar fitri yang meninggal dunia bisa dikatakan belum pernah membuatku menangis
Mungkin aku belum deket aja ma beliau-beliau

Tapi tidak dengan sore itu, 16 Januari 2007
Ditengah-tengah kesibukan edit berita di ITS Online
Sebuah ringtone sms menghentikan ketikan tangaku di keyboard dan beralih ke keypad motorolaku
Sore itu memang aku berharap tak ada sms yang datang, karena sobat dkatku paginya dikabarkan kritis
Dia divonis kanker kelenjar getah bening sekitar 3 bulan lalu
Dan praktis sejak lebaran dia tak pernah kuliah lagi

Dengan hati resah aku membuka sms dari Ratna
Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un
Dedi Kuncahyono telah dipanggil Sang Rabb
Mataku mulai berkaca-kaca
Hati ini mulai menjerit
Aku pun teringat kalau teman-teman angkatanku sedang maen bola di lapangan perpus bawah
Berlari menuju lift dan turun dengan kotak kosong besi itu

Saat kutemui teman-teman yang sedang asyik bermain bola
Kukatakan "Sudah tahu berita Kun?"
Rangga pun menjawab "Udah, besok pagi kan kita berangkat"
"Nggak, Kun dah gak ada"
Tercengang, terkejut, semua langsung menghentikan permainan dan berlari ke arahku
"Hah! bener?", tatapan muram pun mulai berada di wajah mereka
Kami pun segera berkoordinasi dan memutuskan berangkat malam itu juga
Sekitar jam 21.00 kami pun memacu 3 mobil ke arah madiun

Perjalanan sekitar 3-4 jam kami lalui
Tiba disana, Kun sudah dikafani
Teman-teman pun mulai menyolatinya
Allah… dia yang berbaring disana adalah sahabatku, sahabat terbaikku…

Karena pemakaman akan dilaksanakan keesokan harinya (17/1) pukul 10.00, kami pun berinisiatif menginap di rumah Arya di Magetan
Paginya sekitar jam 08.00, kita sudah sampai lagi di rumah Kun
Banyak teman-teman yang sudah datang
Hampir se-angkatan semuanya datang
Ada juga anak BEM dan teman2 SMA nya
Dosen-dosen Tekfis juga berencana kesana

Air mataku mulai tak tertahan
Kun akan dimakamkan
Tangisku tak terbendung lagi
Sesingkat itukah persahabatan kita..

Aku ikut mengantarkannya sampai ke kuburan
Melihat proses pemakamannya
Adzan dan Iqomah… Do’a pun mulai dibacakan
Tangisku tak dapat kutahan lagi
Saat itu yang terbayang Kun sendirian disana
Ya Allah.. terimalah amal ibadahnya
Sayangi dan jaga dia, Allah
Jauhkanlah sahabatku dari siksa kubur
Amin2 ya Allah

Gundukan tanah mulai terbetuk
Sepasang penanda pun ditancapkan
Dedi Kuncahyono, 16 Januari 2007
Allahu Akbar
Aku pun meraih sejumput tanah dan kutambahkan gundukan itu
Menaburkan bunga ditempat peristirahatannya
Allahu Akbar
Wajahku basah oleh airmata
Do’a yang terbaik kupersembahkan padamu, Sobat
Selamat jalan…..

Kun atau yang lebih sering kupanggil Ponakan, pon, pon2, atau pon manis adalah teman se-kelas
Kami sering berbagi rahasia, curhat, kue, semuanya dan terakhir menjadi teman kelompok di penulisan PKM-pengabdian masyarakat
Pon… insyaAllah nanti aku teruskan keinginan kita untuk bantu anak-anak buta belajar Al-Qur’an dengan maupun tanpa lolos PKMP, amiiiiin

Kenapa ponakan? karena dia memanggilku tante
Tante yang aneh ya, pon? :D
semenjak itu pun temen2 banyak yang memanggilku tante
Terakhir kita saling berbagi rahasia tentang sandaran hati masing-masing
Ah.. pon manis.. tante kangen
Kangeeeeen bgt
Bareng Adang, kegilaanmu pasti keluar
Yang minta matahari lah.. yang selalu nembakin aku kue lah
Miss that moment..
Makasih semangat yang slalu kamu berikan ya…"semangat, te..semangat!"
Dscn2831

Allahu Akbar
La Ilaha illa Allah
Semoga kita bisa bertemu lagi, pon… di surga..amiiin

2 Responses to “in memorian: Dedi Kuncahyono”

  1. -Johan Asa- Says:

    Allahu Akbar.. mas kun semoga amal ibadahnya diterima. terimakasih telah berkenalan denganku, meski waktu persahabatan kita relatif singkat didunia ini.

    Mas kun (begitu biasa saya menyapanya jika berpapasan), salah satu teman sepintas lalu. Kenal pas training jurnalistik BEM, saat itu saya menunggu giliran untuk presentasi dan duduk dibelakang, dan bertemu mas kun disebelah saya. Kenallah kami sejak itu.

    Perkenalan yang singkat, tapi cukup untuk untukku membuat penilaian terhadap Mas Kun sebagai sosok aktif yang ramah.

    Ahh, masih teringat saat dia menyapaku di parkiran BAAK, saat itu saya hendak menuju SAC. Lalu, saat dia menyalamiku sesaat sesudah shalat Ashar di Masjid Manarul..

  2. FIRMAN Says:

    d’koen nerobos antrian
    kita masi ngantri fit
    nggak tau interview di dalam sana apa aja
    dia gak mungkin ngasi bocoran
    ntar kalo giliran dipanggil siap gak yah
    moga siap….
    semoga “sukses” bro…

    saudara kita telah sukses mengisi hidup dengan sesuatu yang sangat berkesan… kita semua merasakannya

Leave a Reply